SWEDIA. DMKtv, – Ketika Daniel Ek mendirikan Spotify pada 2006, dunia musik berada dalam krisis. Industri musik sedang menghadapi penurunan penjualan CD dan pembajakan. Namun Ek melihat peluang: “akses ke musik harus semudah membuka keran,” katanya, dan mempopulerkan model streaming sebagai solusi disruptif.
Kini, Ek meninggalkan kursi CEO Spotify dan mengambil peran sebagai executive chair. Daniel Ek mulai masuk ke ranah teknologi berat, kesehatan, pertahanan, dan “moonshot” Eropa.
“Tantangan Besar, Peluang Besar” Pandangan Baru Ek
Ek menyebut peluang terbesar dunia bukan di aplikasi hiburan melainkan pada masalah mendasar manusia. Peluang itu ada pada umur panjang, kesehatan, keamanan dan teknologi mutakhir. Ia siap bertaruh dengan rencana investasi 1 miliar euro ke startup Eropa di bidang deep tech, AI, dan health tech lewat perusahaannya, Prima Materia.
Ia menyebutnya sebagai kelanjutan logika Spotify: mengambil yang “tak wajar” (impossible) dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang “jelas” (obvious). “Big challenges often appear impossible until someone decides to tackle them,” ujarnya.
Investasi Kontroversial: AI dan Drones Militer
Salah satu investasinya yang paling disorot adalah di Helsing, perusahaan Jerman pembuat drone tempur berbasis AI. Drone ini digunakan untuk pertahanan Eropa, terutama dalam konteks konflik Rusia‑Ukraina.
Beberapa musisi bereaksi keras terhadap langkah tersebut: “musik dan senjata bukan perpaduan yang baik,” kata mereka, dan menarik karya mereka dari platform Spotify sebagai bentuk protes.
Reuters memberitakan bahwa Helsing tegas bahwa teknologinya tidak digunakan di zona konflik selain Ukraina, dan hanya dipakai untuk pertahanan dan pencegahan di Eropa.
Meski demikian, sebagian pengamat mengingatkan akan reputasi Spotify. Beberapa artis independen pernah mengkritik Spotify kekuasaan kuratorial. Tindakan Daniel Ek akan menguatkan kembali kritik para artis itu karena hubungan pendirinya dengan teknologi militer.
Warisan Spotify & Tautan ke Masa Depan
Walau akan mengurangi perannya sebagai CEO, Ek tetap menjaga hubungan dengan Spotify. Ia melihat bisnis musik itu sebagai warisan, sekaligus laboratorium sosial – bagaimana teknologi mengubah interaksi manusia dengan budaya dan media.
Di bawah kepemimpinannya, Spotify melakukan sejumlah lompatan dari ads + langganan menjadi platform podcast hingga audio book; dari pemilihan kuratorial tradisional hingga rekomendasi berbasis algoritma yang bisa melahirkan hits baru dalam waktu semalam.
Daniel Ek berencana mengejar masalah “eksistensial”, bukan hanya lukisan dan musik, tapi juga umur panjang manusia, teknologi kesehatan dan kecerdasan buatan, serta teknologi berat Eropa.
Daniel Ek bukan sekadar wirausahawan digital. Ia adalah simbol generasi baru pendiri teknologi yang tidak puas dengan satu kemenangan besar. Setelah membawa Spotify mengubah cara dunia menikmati musik, kini ia mencoba menjawab pertanyaan yang lebih eksistensial.
*(Supantha Mukherjee-Reuters/DMKtv)











