JAKARTA. DMKtv,- Badan Pangan Nasional (Bapanas) akan terus menjaga stabilisasi harga gula konsumsi melalui kolaborasi dengan pelaku usaha seiring dimulainya musim giling tebu pada Mei 2026 guna memperkuat pasokan nasional.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Selasa mengatakan pihaknya telah menggandeng Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia (APGI) untuk kolaborasi melaksanakan stabilisasi harga gula konsumsi.
“Kami sudah dua kali kita rapatkan dan terakhir kemarin kami kirim surat ke APGI untuk ikut menstabilkan harga. Kita berharap Mei ini sudah mulai musim giling. Nah dengan Mei ini mulai musim giling, relatif kita bisa menstabilkan harga,” kata Ketut.
Dia menyampaikan harga gula konsumsi yang berfluktuasi selama April lalu telah disikapi pemerintah dengan mengajak kolaborasi berbagai pihak untuk eskalasi langkah stabilisasi.
“Apalagi Mei ini merupakan awal musim giling tebu, sehingga produksi bulanan dapat meningkat dan pasokan ke pasaran juga bisa lebih deras,” tuturnya.
Bapanas memastikan telah berkomitmen bersama APGI untuk kolaborasi melaksanakan stabilisasi harga gula konsumsi. Ketersediaan gula konsumsi di Mei pun diproyeksikan akan terus meningkat.
Bapanas mendorong peran aktif APGI untuk membantu pemerintah memastikan ketersediaan pasokan gula konsumsi yang merata.
Selain itu perlunya stabilitas harga mengacu Harga Acuan Penjualan (HAP) sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, yakni Rp17.500 per kilogram (kg) untuk wilayah selain Indonesia Timur dan 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan) dan Rp18.500 per kg untuk wilayah Indonesia timur dan 3TP.
“Dan saya sudah tekankan sekali lagi ke APGI, Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia, untuk ikut menstabilkan harga gula,” tambah Ketut.
Pemerintah memproyeksikan produksi bulanan gula konsumsi di Mei dapat melonjak hingga 374 persen. Dari produksi bulanan di April diperkirakan sekitar 58,3 ribu ton, sementara produksi bulanan Mei dapat mencapai hingga 276,4 ribu ton. Prediksi ini berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Gula Konsumsi yang diampu Bapanas.
Menurutnya hal itu selaras dengan laporan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rapat stabilisasi gula yang dilaksanakan Bapanas akhir April 2026. Berkat optimalisasi luas tambah tanam tebu, maka diprediksi produksi gula konsumsi nasional dalam setahun ini dapat mencapai 3 juta ton.
“Musim giling tebu pun akan dimulai pada pertengahan Mei ini di sebagian besar wilayah Jawa,” ucap Ketut.
Adapun stok gula di APGI terpantau sampai akhir April berada di sekitar 100 ribu ton yang tersebar di seluruh daerah. Sementara stok gula di Perum Bulog sampai akhir April terlaporkan berada di angka 2,6 ribu ton tersebar di seluruh Indonesia.
Ketut mengaku mendapat laporan Bulog jika BUMN pangan tersebut memastikan akan menyalurkan stok gula ke masyarakat yang sebagian besar melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan Bapanas maupun pemerintah daerah.
Untuk itu, lanjut Ketut, Bapanas memastikan akan berupaya secara kolaboratif melalui optimalisasi distribusi gula konsumsi ke seluruh wilayah Indonesia. Fokus distribusi stok ada akan diutamakan pada wilayah yang mengalami fluktuasi harga gula konsumsi.
*(Muhammad Harianto/ANTARA)











