BANDUNG. DMKtv,- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan bahwa ketersediaan transportasi umum yang terintegrasi, terdigitalisasi, dan berkeadilan kini telah menjadi kebutuhan dasar warga metropolitan, seiring resmi dimulainya proyek pembangunan infrastruktur Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung.
“Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya. Kita berharap penyelenggaraan pembangunannya berjalan aman, lancar, tanpa gangguan, dan mampu menghadirkan kualitas infrastruktur yang bermutu tinggi,” kata Dedi dalam keterangan di Bandung, Rabu.
Dedi menyebutkan dengan jumlah penduduk kawasan yang besar dan perkembangan yang ada kebutuhan akan transportasi atau angkutan publik semakin meningkat.
Pria yang akrab disapa KDM itu menekankan agar lonjakan trafik pengguna angkutan publik diimbangi dengan pengamanan ekstra, ketersediaan fasilitas kebersihan, trotoar laik, serta penerangan jalan guna menekan potensi timbulnya kejahatan, bahkan bukan hanya Bandung Raya tapi seluruh Jabar.
“Jawa Barat harus adil. Kota-kota besar berkembang, tetapi desa-desa juga harus merasakan pembangunan. Infrastruktur dasar wajib menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Proses pembangunan BRT Cekungan Bandung yang masuk proyek infrastruktur Indonesia Mass Transit Project (Mastran) berbasis jalan raya ini, secara simbolis dimulai dengan groundbreaking di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung pada Rabu (22/7), dengan target seluruhnya beroperasi penuh pada 2027.
Sistem angkutan massal modern bernilai investasi Rp1,3 triliun tersebut diproyeksikan ditopang pembangunan jalur khusus sepanjang 21 kilometer, 6 depo utama, 753 halte, serta penerapan sistem transportasi pintar (Intelligent Transportation System/ITS).
Di lokasi lainnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan penataan sistem pergerakan melalui BRT menjadi solusi jangka panjang dalam menekan tingkat kemacetan yang menggerus produktivitas dan meningkatkan biaya logistik kawasan Cekungan Bandung.
“Groundbreaking hari ini menjadi tonggak sejarah dalam mewujudkan transportasi publik modern. Kita ingin menghadirkan angkutan umum yang nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi sehingga menjadi opsi utama mobilitas masyarakat,” kata Dudy.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan merinci pembiayaan proyek Mastran bersumber dari Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD) dengan total porsi BRT Cekungan Bandung mencakup 719 halte off-corridor serta 34 halte on-corridor.
Pembangunan tahap pertama difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan jalur utama BRT, disusul tahap berikutnya untuk halte ikonik serta depo di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.
“Ke depannya, sistem BRT ini ditargetkan memiliki waktu tunggu (headway) maksimal 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk. Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target,” kata Aan menjelaskan.
*(Ricky Prayoga/ANTARA)











