JAKARTA. DMKtv,- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadikan penguatan ketahanan pangan serta evaluasi tata kelola energi nasional salah satu bahasan penting dalam agenda Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 yang digelar pada 24-26 Juli 2026.
Wakil Ketua Umum MUI K.H. Marsudi Syuhud dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, mengatakan agenda ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam menjadi porsi penting yang akan dikaji oleh para ulama bersama pemangku kebijakan.
“Kondisi pangan dan kedaulatan ekonomi kita akan dikritisi oleh para kiai, tokoh, dan akademisi, guna memastikan kebijakan pembangunan berorientasi pada kemakmuran rakyat,” kata dia.
Marsudi menuturkan forum tersebut akan menelaah secara kritis realitas ketahanan pangan nasional, termasuk ketergantungan pada impor komoditas pangan di tengah predikat Indonesia sebagai negara agraris.
Selain sektor pangan, lanjutnya, kongres juga menjadwalkan pembahasan khusus mengenai tata kelola energi dan sumber daya mineral, khususnya dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas eksplorasi pertambangan.
Marsudi menekankan setiap aktivitas pembangunan harus memperhitungkan keseimbangan antara nilai manfaat (maslahat) dan potensi kerusakan (mudharat) lingkungan yang ditimbulkan bagi masyarakat luas, dalam hal ini termasuk juga aktivitas ekstraktif.
Adapun KUII ke-8 ini akan membahas pertambangan untuk organisasi keagamaan yang diagendakan dihadiri oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia.
“Setiap pembangunan di satu titik pasti ada dampak di titik lain. Pertimbangannya adalah apakah nilai manfaatnya lebih besar daripada dampaknya, itu yang nanti dikaji secara mendalam,” katanya.
KH Marsudi Syuhud mengatakan selain isu pangan dan energi, pleno KUII menghadirkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa serta pelaku usaha untuk membahas peta jalan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan peneguhan daya saing nasional.
*(M. Riezko Bima Elko Prasetyo/ANTARA)











