PIER Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh di Kisaran 5,1-5,3 Persen pada 2026

JAKARTA. DMKtv,- Lembaga riset ekonomi milik Permata Bank, Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,1-5,3 persen sepanjang 2026 ini.

“Kami tetap melihat bahwa di tahun ini pertumbuhan PDB Indonesia masih berkisar 5,1-5,3 persen, dengan titik tengahnya masih di kisaran 5,2 persenan,” kata Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa.

Meski demikian, Josua menilai terdapat sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, terutama pada kuartal II dan kuartal III 2026. Tidak adanya faktor musiman libur Ramadhan dan Lebaran pada kuartal II tahun ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Berbeda dengan tahun 2025 lalu, momentum libur panjang itu jatuh pada kuartal II sehingga turut mendorong aktivitas konsumsi masyarakat. Sementara pada tahun ini, periode Lebaran berlangsung pada kuartal I sehingga efek dorongan konsumsi diperkirakan tidak lagi sebesar tahun sebelumnya.

Kendati demikian, Josua menyebut sejumlah indikator awal mulai menunjukkan perbaikan, salah satunya dari penjualan otomotif yang mulai bergerak positif.

Kemudian, pemerintah sendiri masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketahanan fiskal hingga akhir tahun.

Menurut Josua, langkah efisiensi anggaran menjadi penting agar kondisi fiskal tetap terjaga, terutama di tengah kebutuhan belanja pemerintah yang besar.

Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menjaga stabilitas harga energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) agar tidak memicu tekanan tambahan terhadap konsumsi domestik.

“Pemerintah perlu melakukan rasionalisasi, ataupun dalam hal ini penghematan dari beberapa pos-pos anggaran karena untuk menavigasi agar fiskal kita bisa memiliki ketahanan. Ya setidaknya sampai dengan akhir tahun ini, dan juga tadi bagaimana untuk bisa membatasi potensi kenaikan harga BBM yang tentunya ini juga akan berdampak negatif bagi perekonomian kita,” jelasnya.

Dari sisi inflasi, PIER memperkirakan tekanan harga masih relatif terkendali sepanjang pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi. Inflasi diproyeksikan masih tetap berada di bawah 3 persen.

Sementara dari sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Josua memperkirakan defisit fiskal tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski demikian, Josua mengingatkan pemerintah tetap perlu menentukan prioritas belanja di tengah besarnya kebutuhan anggaran.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti potensi pelebaran defisit transaksi berjalan yang dapat terjadi bersamaan dengan pelebaran defisit fiskal atau dikenal sebagai twin deficit.

Kondisi pasar keuangan global dan domestik dinilai masih menjadi tantangan yang perlu dicermati ke depan, termasuk terkait arah suku bunga acuan.

Menurut dia, tekanan di pasar keuangan saat ini merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik yang perlu diantisipasi secara hati-hati.

“Ini merupakan kombinasi dari seluruh faktor baik itu eksternal dan juga dari sisi domestik yang kita perlu sisir beberapa isunya ke depannya, agar tadi tantangan tersebut bisa kita navigasi ke depannya,” tutupnya.

*(Bayu Saputra/ANTARA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini