JAKARTA. DMKtv,- Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyebut Indonesia sebagai faktor stabilitas penting di kawasan ASEAN serta mengapresiasi peran aktifnya dalam pengembangan arsitektur keamanan di Asia Tenggara.
“Kami di Eropa sangat mengamati apa yang terjadi di Indo-Pasifik. Dan kami melihat peran pentingnya ASEAN dalam mengembangkan arsitektur keamanan di kawasan ini. Dan Indonesia merupakan faktor stabilitas penting di dalam kawasan ASEAN,” ujar Presiden Steinmeier saat mengunjungi Istana Merdeka, Jakarta, Senin.
Menurut Steinmeier, Indonesia secara konsisten memperkuat pengaruh dan kontribusinya di tingkat ASEAN, terutama dalam menjaga stabilitas kawasan.
Ia mengatakan kerja sama Indonesia dan Jerman tidak hanya mencakup isu politik dan keamanan, tetapi juga berbagai bidang lain, termasuk perlindungan lingkungan hidup.
Steinmeier menilai keberadaan Indonesia di Asia Tenggara memberikan kontribusi positif bagi keseimbangan kawasan Indo-Pasifik. Stabilitas keamanan regional, menurut dia, menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan penguatan hubungan perdagangan.
Pemerintah Jerman berharap stabilitas kawasan yang terus dijaga Indonesia dapat membuka peluang investasi baru serta memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Menurut Steinmeier, penguatan arsitektur keamanan kawasan juga akan mendukung interaksi dan kerja sama antarpelaku usaha dari Indonesia dan Jerman.
Komitmen menjaga stabilitas kawasan tersebut, lanjut dia, akan terus menjadi bagian dari pembahasan berkelanjutan antara pemerintah Indonesia dan Jerman.
Sebagai pelopor Deklarasi Bangkok 1967, Indonesia menjalankan peran mediator dalam konflik kawasan Asia Tenggara. Indonesia menjadi lokasi Kantor Sekretariat Tetap ASEAN sebagai pusat administrasi diplomasi antarnegara anggota.
Indonesia juga memprakarsai pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN untuk integrasi pasar bebas, dan juga menggerakkan kerja sama sektor pendidikan serta mempromosikan penegakan hak asasi manusia melalui Komisi Antar-Pemerintah ASEAN.
*(Aditya Ramadhan, Maria Cicilia Galuh/ANTARA)











