Gaungkan Tempe Goes to UNESCO, Kowani Gelar Fun Walk 10.000 Langkah

JAKARTA. DMKtv,- Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengadakan fun walk 10.000 langkah sehat dalam rangka menggaungkan gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO.

“Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga,” kata Ketua Umum Kowani Nannie Hadi Tjahjanto di Jakarta, Minggu.

Fun walk yang menempuh rute dari halaman Kantor Kowani menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan kembali ke Kantor Kowani sebagai titik finis ini, melibatkan 1.000 peserta.

Nannie mengatakan tempe memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan pangan sekaligus sumber peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya perempuan.

Menurut dia, pengembangan tempe dapat dilakukan melalui berbagai inovasi bahan pangan lokal, tidak hanya berbasis kedelai, tetapi juga memanfaatkan sorgum dan aneka kacang-kacangan.

Diversifikasi tersebut dinilai dapat melahirkan berbagai produk olahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi perempuan.

Ia menambahkan penguatan ekonomi perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga.

Pihaknya pun berharap melalui keterampilan, pelatihan, kursus, dan sertifikasi, perempuan bisa memiliki kemampuan untuk bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan fun walk tersebut adalah Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO.

Pihaknya ingin mendorong agar tempe semakin diperkuat sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan pangan.

Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan semakin luasnya pengenalan tempe di berbagai negara menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat pelestarian dan pengakuan terhadap tradisi yang berkaitan dengan tempe.

Menurutnya, gerakan menuju UNESCO bukan sekadar mengejar pengakuan internasional, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi pembuatan tempe tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tempe memiliki ekosistem yang luas, mulai dari petani dan penyedia bahan baku, perajin, pelaku UMKM, industri pengolahan hingga konsumen.

Karena itu, penguatan tempe, menurut dia, juga dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Kalau kita tidak bergerak cepat, sementara tempe semakin dikenal di berbagai negara, kita bisa tertinggal. Karena itu, tempe perlu terus kita dukung menuju UNESCO,” kata Nannie.

*(Anita Permata Dewi/ANTARA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini