JAKARTA. DMKtv,- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menginginkan agar minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional, dalam tinjauan pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan milik Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah, Senin.
“Pengembangan SAF (Sustainable Aviation Fuel) harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat, sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional,” ujar Wapres dikutip dari siaran BPMI Sekretariat Wakil Presiden di Jakarta, Senin.
Wapres meninjau pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) berbasis minyak jelantah di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Senin.
Ia menekankan inovasi energi perlu memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan SAF harus diiringi pemberdayaan warga setempat agar pengelolaan minyak jelantah tidak hanya memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi pengumpul dan pengelolanya.
Minyak jelantah sendiri memiliki nilai tambah sebagai bahan baku energi dan membuka peluang ekonomi bagi kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaannya.
Kunjungan Wapres tersebut bagian dari upaya pemerintah mendorong tindak lanjut atas potensi daerah, termasuk pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan minyak jelantah.
Kilang Cilacap memiliki kapasitas pengolahan 348 ribu barel per hari atau sekitar 31 persen dari total kapasitas kilang Pertamina di Indonesia. Di kilang tersebut, SAF dikembangkan melalui skema pengolahan bersama (co-processing), yakni mengolah minyak jelantah (used cooking oil, UCO) bersama kerosin pada unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT).
Unit TDHT RU IV Cilacap telah beroperasi secara komersial dengan estimasi produksi bersih SAF sekitar 5.075 kiloliter per tahun.
*(Aditya Ramadhan/ANTARA)











