Jelang Waisak, 3.000 Lebih Umat Buddha Serentak Ikuti Hening Nusantara di 34 Provinsi

JAKARTA. DMKtv,- Lebih dari 3.000 umat Buddha dari berbagai penjuru tanah air serentak merenung dalam hening.

Mereka tersebar di 34 provinsi, menyatukan hati dan napas dalam kegiatan “Hening Nusantara” yang digelar pada Rabu malam, 20 Mei 2026.

Momentum ini menjadi rangkaian penting menuju puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE yang jatuh pada 31 Mei mendatang.

Bukan sekadar diam tanpa suara. Di balik keheningan itu mengalir doa lintas batas: untuk kedamaian bangsa, untuk penjernihan batin, dan untuk melawan bisingnya dunia yang kian terpecah.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, hadir memberi makna mendalam atas kegiatan ini.

Menurutnya, hening bukanlah kekosongan, melainkan ruang di mana manusia belajar mendengar suara batinnya sendiri.

“Hening bukan sekadar diam. Dalam keheningan, manusia belajar mendengarkan suara batin, menata pikiran, serta merawat kebijaksanaan dan kasih sayang di tengah bising kehidupan,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026 malam.

Ia menambahkan, di tengah dunia yang diliputi konflik, polarisasi, dan hiruk-pikuk kepentingan, bangsa Indonesia sangat membutuhkan momen-momen reflektif seperti ini.

Dari keheningan, kata dia, lahir sikap bijak yang mampu menciptakan perdamaian nyata.

“Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual sekaligus ikhtiar sosial untuk memperkuat nilai toleransi, moderasi, persaudaraan, dan harmoni kebangsaan,” tegasnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, menjelaskan bahwa Hening Nusantara merupakan bagian dari program besar Vesākha Sānanda 2570 B.E..

Pelaksanaan serentak di 34 provinsi bukanlah kebetulan, melainkan simbol bahwa kedamaian harus tumbuh dari setiap sudut negeri.

“Hening Nusantara ini adalah persembahan spiritual dari Indonesia untuk kedamaian semesta,” ujar Supriyadi.

Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi berbagai ketegangan.

Momen menjelang Tri Suci Waisak dimanfaatkan untuk mengajak umat Buddha mengendalikan sifat-sifat negatif: kebencian, keserakahan, iri hati, dan ketidaktahuan batin.

Bhante Sri Pannavaro Mahathera, tokoh agama Buddha terkemuka, menilai inisiatif ini sangat tepat.

Menurut pandangan Buddhis, akar dari segala persoalan manusia, termasuk peperangan berasal dari pikiran yang kacau.

“Kalau pikiran bisa tenang, kotoran-kotoran pikiran mengendap, dan pikiran menjadi jernih, itu adalah awal dari kedamaian, kebahagiaan, keharmonisan bagi dunia,” kata Bhante.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Philip Kuntjoro Widjaja, menyampaikan rasa syukur.

Ia berharap kegiatan ini memperkuat kepedulian sosial umat Buddha sekaligus mendorong terciptanya Indonesia yang lebih damai di tengah keberagaman.

“Kami mendoakan semoga semua bahagia dan bersyukur, serta mencurahkan energi yang membuat Indonesia makin damai,” ujarnya.

Acara yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ini juga diikuti oleh aparatur sipil negara dari berbagai kementerian dan lembaga, termasuk TNI, Polri, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Badan Kepegawaian Negara.

Tak hanya itu, Wakil Ketua Umum DPP WALUBI, Karuna Murdaya, mengungkapkan bahwa Hening Nusantara diajukan ke Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Kegiatan Hening dengan lokasi terbanyak di 34 provinsi”.

“Diperkirakan lebih dari 3.000 orang bermeditasi dari 34 provinsi. Ini momentum baik. Kami bersama seluruh komponen Agama Buddha menyerukan persatuan dan kedamaian untuk Bangsa Indonesia lewat meditasi ini,” jelas Karuna.

*(Moh Purwadi/DISWAY.ID)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini